Penulis: Sri Rezeki S. Hadinegoro
Imunisasi telah diakui oleh dunia secara global telah berhasil menurunkan berbagai infeksi, seperti difteria, batuk rejan, tetanus, campak, hepatitis B, meningitis dan pneumonia yang disebabkan oleh Haemophillus influenzae tipe B (Hib); malahan penyakit cacar (variola) telah musnah dari muka bumi akibat semua orang telah dicacar. Harapan terbuka lebar dalam waktu dekat penyakit poliomielitis akan tidak dapat dijumpai lagi di seluruh dunia.
Hal yang mendasar dari perbedaan antara obat dan vaksin adalah obat diberikan kepada orang sakit sedangkan vaksin diberikan pada bayi & anak sehat. Maka anak yan semula sehat harus tidak menjadi sakit setelah diimunisasi; oleh karena itu keamanan vaksin yang akan diberikan pada bayi dan anak merupakan salah satu prioritas penting yang selalu diperhatikan oleh pengelola program imunisasi. Apabila dibandingkan dengan sepuluh tahun terakhir, vaksin yang berada di pasaran jauh lebih aman dalam menimbulkan kekebalan (antibodi). Kemajuan ilmu kedokteran ditunjang oleh teknologi mutakhir menyebabkan vaksin yang diproduksi menjadi lebih aman, misalnya teknologi vaksin kombinasi (vaksin kombo), vaksin rekombinan, vaksin konjugasi, dan lain-lain.
Untuk menentukan imunisasi apa yang diperlukan oleh anak-anak yang tinggal di suatu negara, diperlukan beberapa pertimbangan, antara lain berapa banyak anak yang menderita penyakit tersebut, bagaimana penyebaran penyakit, dan berapa banyak anak meninggal atau cacat akibat penyakit tersebut (epidemiologi penyakit). Tentu saja hal tersebut tidak cukup tanpa diikuti dengan data vaksin baik mengenai cara menimbulkan kekebalan maupun keamanannya. Pertimbangan terakhir adalah bagaimana policy pemerintah setempat terhadap program imunisasi terutama menyangkut pendanaan.
Mengenai keamanan vaksin, perlu diketahui bahwa secara garis besar terdapat dua jenis vaksin yaitu vaksin mati dan vaksin hidup. Khususnya vaksin mati, untuk menghasilkan kekebalan yang optimal diperlukan zat-zat aditif yang berfungsi sebagai ajuvan (menambah potensi untuk membentuk kekebalan), antibiotik (untuk memerangi masuknya kuman ke dalam vaksin), ataupun preservasi dan pengawet, seperti formaldehid, thimerosal, dan aluminium. Dalam kajian ini akan disajikan ulasan tanya jawab mengenai thimerosal yang akhir-akhir ini bayak dibicarakan pada orang tua yang mempunyai perhatian pada imunisasi putra-putrinya.
Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia
Prof. Dr.dr. Sri Rezeki S.Hadinegoro
Tanya Jawab Mengenai Thimerosal
Disadur oleh
Sri Rezeki S.Hadinegoro,
Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia
KOMNAS Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Depkes
1. Apa thimerosal itu?
Thimerosal (juga disebut thiomersal atau mercurothiolate) adalah komponen merkuri yang digunakan sebagai trace amounts untuk mencegah kontaminasi bakteri atau mikroorganisme lain, terutama pada vial multi dosis (multi dose vial=MDV) yang telah digunakan.
2. Apakah thimerosal merupakan komponen baru di dalam vaksin?
Tidak, thimerosal dalam kemasan vaksin telah dipergunakan oleh produsen vaksin sejak 60 tahun yang lalu. Selama ini tidak pernah dilaporkan efek samping vaksin akibat thimerosal kecuali sangat sedikit data akibat sensitisasi berupa ruam pada kulit.
3. Mengapa thimerosal dipakai dalam vaksin?
Thimerosal diperlukan sebagai stabilisator dan pengawet (pengamanan) terhadap kontaminasi bakteri & mikroba yang dapat mematikan, terutama pada vaksin dosis ganda (multi-dose vial).
4. Siapa yang mempunyai risiko tinggi terhadap merkuri?
Merkuri tidak baik untuk semua orang, namun kelompok yang berisiko tinggi adalah janin di dalam kandungan dan bayi baru lahir. Otak merupakan organ yang sangat sensitif terhadap merkuri. Jenis merkuri di dalam thimerosal tidak sama dengan merkuri yang dapat menyebabkan kecelakaan dalam industri dan tidak sama bahayanya. Molekul thimerosal di dalam tubuh akan diikat oleh molekul lain, tidak berada bebas di dalam darah sehingga tidak mudah bereaksi dengan jaringan tubuh. Demikian juga jumlah merkuri di dalam vaksin sangat sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah yang biasa terdapat pada kecelakaan industri.
5. Batas keamanan kadar merkuri
WHO dan US Food Drug and Administration tidak menetapkan batasan kadar konsumsi etil merkuri, namun berdasarkan struktur kimiawi substansi diperkirakan sama dengan batasan kadar konsumsi metil merkuri (hasil metabolisme merkuri yang terdapat dalam makanan). Batas keamanan merkuri di dalam makanan (metil merkuri) menurut Environment Protection Agency (EPA) 34 mcg/BB/minggu sedangkan WHO 159 mcg /BB/ minggu.
6. Berapa kadar merkuri di dalam Program Pengembangan Imunisasi?
Di Indonesia jadwal imunisasi PPI selama 6 bulan pertama kehidupan bayi mendapat imunisasi sebagai berikut.
Kadar merkuri dalam vaksin PPI
Jumlah Vaksin Kadar merkuri (mcg)
BCG, OPV-0, HB-1 25
DTP-1, OPV-1, HB-2 50
DTP-2, OPV-2 25
DTP-3, OPV-3, HB-3 50
Jumlah
150
Ket. OPV = vaksin polio oral, HB=hepatitis B
mcg = mikrogram
Pada bayi yang mendapat Hib pada umur 2, 4, dan 6 bulan tidak menambah jumlah kandungan merkuri karena vaksin Hib yang beredar di Indonesia tidak mengandung thimerosal.
7. Apakah kadar merkuri 150 mcg dalam waktu 6 bulan tidak melampaui batas aman?
Bayi umur 6 bulan mempunyai berat badan rata-rata 5 kg
Dalam 6 bulan bayi mendapat 150 mcg Hg
Rata-rata 1 bulan mendapat 150 : 6 = 25 mcg Hg
Rata-rata per bulan/ kg berat badan 5 : 5 = 5 mcg
Rata-rata per minggu 5 : 4 = 1,25 mcg/BB/minggu
Jadi, apabila dikonversikan ke berat badan, maka total dosis kumulatif etil merkuri yang diberikan selama vaksinasi sampai anak usia 6 bulan (masing-masing tiga dosis dari vaksin DTP, hepatitis B) kurang dari batas minimal yang direkomendasikan oleh WHO.
8. Apakah semua vaksin mengandung thimerosal?
Tidak, tidak semua vaksin mengandung thimerosal. Semua vaksin "hidup" tidak mengandung thimerosal, seperti BCG, polio oral, campak, dan MMR. Beberapa vaksin yang diberikan dalam semprit satu kali pakai (kemasan single dose, monodosis) tidak mengandung thimerosal. DTP yang tidak mengandung thimerosal adalah DTP aselular (DTaP).
9. Apakah ada bahan lain untuk menggantikan thimerosal dalam vaksin?
Terdapat beberapa bahan kimia lain seperti 2-phenooxyethanol, dapat dipakai sebagai bahan preservasi dalam vaksin; namun daya kerjanya tidak dapat menandingi thimerosal. Maka apabila telah ada bahan lain yang dapat menggantikan efektifitas thimerosal, sebaiknya digantikan oleh bahan lain. Namun perlu diperhatikan bahwa hal ini akan memakan waktu panjang sampai vaksin tersebut dapat dipergunakan. Oleh karena, menggantikan preservasi vaksin berarti membuat produk "baru", sehingga harus mengikuti peraturan pembuatan vaksin baru yang memerlukan berbagai uji dan lisensi untuk menjamin vaksin baru tersebut dinyatakan aman.
10. Apakah di dalam kemasan vaksin ditulis bahwa vaksin tersebut mengandung thimerosal?
Ya, semua vaksin berisi semua kandungan yang berada di dalam vaksin, termasuk kadar thimerosal.
11. Siapa yang mempunyai risiko tinggi terhadap merkuri?
Merkuri tidak baik untuk semua orang, namun kelompok yang berisiko tinggi adalah janin di dalam kandungan dan bayi baru lahir. Otak merupakan organ yang sangat sensitif terhadap merkuri. Jenis merkuri di dalam thimerosal tidak sama dengan merkuri yang dapat menyebabkan kecelakaan dalam industri dan tidak sama bahayanya. Molekul thimerosal di dalam tubuh akan diikat oleh molekul lain, tidak berada bebas di dalam darah sehingga tidak mudah bereaksi dengan jaringan tubuh. Demikian juga jumlah merkuri di dalam vaksin sangat sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah yang biasa terdapat pada kecelakaan industri.
12. Apa yang harus dilakukan oleh orang tua (divaksinasi atau tidak divaksinasi dengan vaksin yang mengandung thimerosal?)
Untuk semua negara, risiko terjadinya kematian dan komplikasi akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi adalah nyata dan merupakan masalah besar. Sedangkan risiko efek samping thimerosal dalam vaksin masih merupakan teori, belum pasti, dan apabila ada, sangat kecil kemungkinannya. Saran yang terbaik adalah tetap melanjutkan imunisasi untuk anak-anaknya. Melanjutkan pemberian imunisasi jelas lebih menguntung kan daripada menghentikannya. Percayakanlah mengenai kualitas dan keamanan vaksin kepada WHO, Badan Pengawas Obat & Makanan, dan produsen vaksin.
13. Adakah dasar ilmiah yang dapat dipercaya oleh orang tua bahwa vaksin yang diberikan kepada anaknya tersebut aman?
Vaksin yang mengandung thimerosal telah dipergunakan selama 60 tahun tanpa dilaporkan adanya efek samping thimerosal. Tidak ada informasi ilmiah satupun yang menemukan bahwa thimerosal dalam vaksin berbahaya. Semua diskusi yang berjalan selama ini berdasarkan pada teori.
14. Bagaimana dokter dan petugas imunisasi mengatasi kekhawatiran orang tua?
Orang tua dapat bertanya hal-hal yang ingin diketahui untuk mendapat informasi yang benar. Isu ini sangat kompleks pada umumnya orang tua tidak ingin mengetahui semua segi ilmiahnya; mereka hanya ingin mendapat kepastian dari seseorang yang dipercayainya, apakah hal ini aman atau tidak
15. Apakah anak yang telah mendapat vaksin yang mengandung thimerosal mempunyai risiko terjadinya efek samping? Apa saja kemungkinan efek samping tersebut? Apakah ada pengobatan untuk anak-anak tersebut?
Kemungkinan risiko yang terjadi pada semua produk yang mengandung merkuri adalah rangsangan (sensitisasi) pada kulit sehingga menyebabkan ruam (skin rash). Jumlah thimerosal dalam vaksin sangat sangat kecil, maka risiko efek samping hanya sebatas teori. Walaupun demikian adanya kadar merkuri yang tinggi pada ibu hamil dapat menyebabkan kerusakan otak bayi yang dikandungnya. Hal ini sangat jarang terjadi, dilaporkan pernah terjadi karena ibu hamil makan gandum yang terkontaminasi merkuri. Anak-anak yang telah mendapat thimerosal dalam vaksin tidak perlu pengobatan.
16. Berapa banyak anak-anak di dunia yang telah mendapat vaksin yang mengandung thimerosal yang direkomendasikan oleh WHO?
WHO memperkirakan tidak ada seorang anakpun yang mendapatkan merkuri dari vaksin yang melebihi rekomendasi WHO. Negara yang masyarakatnya yang banyak meng- konsumsi ikan (ikan mungkin mengandung merkuri dalam kadar tinggi) dapat mempunyai merkuri di atas kadar yang direkomendasikan.
17. Apakah negara harus mengikuti saran WHO untuk memberikan vaksin hepatitis B pada saat lahir?
Negara yang mempunyai risiko transmisi hepatitis B dari ibu ke bayinya tinggi (termasuk Indonesia), WHO merekomendasikan pemberian vaksin hepatitis B pada bayi baru lahir tetap dilanjutkan. WHO tidak menyarankan dilakukan skrining sebelum imunisasi. Di dunia terdapat jutaan kasus hepatitis B baru yang mengakibatkan ribuan kematian pada dewasa setiap tahunnya. Risiko penyakit ini sangat besar sedangkan risiko thimerosal dalam vaksin masih teoritis, belum jelas, dan apabila ada sangat kecil.
18. Apa kesepakatan global mengenai thimerosal dalam vaksin?
WHO, UNICEF, dan semua pihak yang mempunyai tugas pada kesehatan masyarakat menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk menghentikan vaksin yang sedang beredar saat ini. Apabila masyarakat dapat menerima pendapat ini, maka tidak ada masalah. Namun apabila para pengambilkeputusan menjadi panik, masyarakat akan menolak pemakaian vaksin yang mengandung thimerosal. Padahal produsen vaksin belum dapat mengalihkan ke produk alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan anak di seluruh dunia.
19. Apakah dapat semua vaksin dibuat tanpa thimerosal (thimerosal free)? Berapa lama?
Beberapa jenis vaksin dapat segera dibuat bebas thimerosal, namun vaksin tersebut tidak mengandung preservasi. Hal ini berbahaya untuk vaksin multi dosis tanpa thimerosal. Solusi pertama adalah membuat vaksin dosis tunggal (single-dose vial), namun akan mahal sekali harganya dan secara teknis tidak semua vaksin dapat diperlakukan sama. Alternatif kedua mengganti dengan preservasi lain, maka diperlukan re-lisensi vaksin yang akan mengambil waktu cukup lama. Re-lisensi tersebut juga berlaku untuk vaksin "baru" tanpa thimerosal.
20. Apa yang dilakukan oleh WHO = world health organization (badan kesehatan dunia) mengenai thimerosal dalam vaksin?
1. WHO sedang berupaya untuk menghilangkan penggunaan thimerosal dari vaksin apabila telah ada penggantinya yang cukup efektif, untuk hal ini WHO bekerja sama dengan national regulatory authorities = RNA (di Indonesia dikenal dengan Badan POM) dan produsen vaksin.
2. WHO menerangkan bahwa risiko anak yang tidak diimunisasi adalah kematian dan komplikasi akibat menderita penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi adalah nyata dan merupakan masalah besar. Sedangkan risiko efek samping thimerosal dalam vaksin masih merupakan teori, belum pasti, dan terutama sangat kecil kemungkinannya.
3. WHO bertujuan mengganti thimerosal dengan komponen preservasi lain di masa mendatang.
4. WHO menguji kemungkinan mengkombinasikan beberapa vaksin dalam kemasan satu vial (botol). Dengan cara ini, jumlah thimerosal yang sama untuk beberapa vaksin sekaligus sehingga dengan demikian jumlah thimerosal akan berkurang.
Sumber bacaan
1. http://www.who.int/vaccines-diseases/safety/hottop/thiomersal July 1999 Joint statemant of AAFP, AAP, ACIP and USPHS on thimerosal in childhood vaccines. www.vaccinesafety.edu/AAFP-AAP-ACP-thimerosal.htm
2. Infomation on Thimerosal from ACIP Meeting, June 2001. www.vaccinesafety.edu/ACIP-thim-0261.htm
3. WHO SEARO. Safety on vaccine in Indonesia. Notes from meeting 7 February 2001.
4. Slamet L. Keamanan thimerosal sebagai pengawet dalam vaksin. Pertemuan IDAI Jakarta 15 Februari 2001.
5. Sumara L. Thimerosal dan vaksin. Sari Pediatri 2001.
6. American Association of Pediatric. Use of hepatitis B vaccine related to thimerosal in vaccine Q & A. www.aap.org/new/hepbqa.htm
7. CDC. Implementation guidance for immunization grantees during the transition period to vaccine without thimerosal. July 14, 1999. www.cdc.gov/nip/news/thimerosal-guidance.htm
8. MMWR. Recomendations regarding the use of vaccine that contain thimerosal as a preservative. Nov 5, 1999/ 48(43);996-8. www.cdc.gov/epo/mmwr/preview/mmwrhtm/mm4843a4.htm
Jumat, 14 Maret 2008
΄Growth Hormone΄ pada Anak
Penulis: Bambang Tridjaja
Growth hormone atau hormon pertumbuhan (HP) merupakan salah satu hormon penting yang mengatur pertumbuhan panjang anak. HP tidak berperan penting selama di dalam kandungan, peran yang besar terjadi justru setelah anak lahir.
Dengan semakin meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat, tinggi badan rata-rata masyarakat akan turut meningkat yang dikenal sebagai "kecenderungan sekular".
Contoh yang bisa kita lihat adalah bangsa Jepang yang dhulu dikenal sebagai bangsa "kate" kini generasi mudanya sudah jauh lebih tinggi dari kakek-neneknya, bahkan orang tuanya. Dinegara berkembang, kecenderungan anak kota lebih tinggi dari anak desa pun terlihat. Akibatnya, anak-anak di perkotaan yang merasa dirinya "pendek" akan mencari solusi untuk dapat mencapai tinggi badan yang tinggi yang sepadan dengan teman-temannya.
Belum lagi, beberapa pekerjaan tertentu yang menarik bagi anak muda memerlukan persyaratan tinggi minimal (seperti pilot, tentara, polisi, peragawan/peragawati dll)
Apakah HP jawabannya ?
Tinggi badan anak dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain faktor genetik dan faktor lingkungan. Secara genetik, artinya tinggi badan sangat dipengaruhi oleh tinggi badan kedua orangtuanya, dan dalam skala kecil tinggi badan keluarga terdekat kedua orang tua.
Faktor genetik, mengandung pengertian juga anaknya tidak menderita gangguan genetik tertentu. Faktor lingkungan yang dimaksud antara lain adalah lingkungan selama masih dalam kandungan (lahir prematur atau tidak), gizi, tingkat kesehatan, lingkungan, kasih sayang dalam keluarga, dan tentunya lingkungan hormonal.
Optimalnya semua faktor pendukung dan minimalnya faktor penghambat tinggi badan (penyakit kronis) akan menghasilkan tinggi badan yang sesuai dengan potensi genetiknya.
Dari berbagai penelitian pemakaian HP pada anak, semuanya melaporkan penggunaannya pada anak pendek dengan kondisi penyakit tertentu. Kesimpulan utama yang dapat diambil adalah semakin pendek anak (karena penyakit tertentu tersebut), semakin baik responsnya terhadap pengobatan HP. Artinya, bila pertumbuhan anak sudah normal sesuai dengan potensi genetiknya tentunya responnya minimal sekali atau bahkan mungkin tidak ada.
Beberapa penyakit dengan perawakan pendek yang berhasil dengan pemberian HP adalah anak dengan defisiensi/kekurangan HP, sindrom Turner, berat badan lahir rendah , gagal ginjal kronis, dan sindrom Prader Willi Kondisi ini lain dengan perawakan pendek yang juga diberikan HP ialah "pendek tanpa sesuatu sebab patologis" (idiopathic short stature). Pada kondisi terakhir ternyata pemberian HP memberikan respons yang cukup baik.
Perlu diketahui bahwa sampai saat ini biaya yang diperlukan untuk memperbaiki tinggi badan pada keadaan-keadaan tersebut masih sangat mahal.
Sebagai penutup, mungkin perlu diingat bahwa fungsi hormon dalam tubuh adalah untuk menjaga keseimbangan fisiologis (homeostasis) tubuh, sehingga penggunaan hormonal perlu ditangani oleh seorang yang memang ahli dalam bidangnya.
Kelebihan hormon tentu akan berdampak buruk apabila digunakan sembarangan. Sebagai contoh dapat dilihat apa saja yang terjadi pada atlet yang menggunakan hormon tidak benar, sehingga International Olympic Committee (IOC) perlu mengeluarkan larangan.
Growth hormone atau hormon pertumbuhan (HP) merupakan salah satu hormon penting yang mengatur pertumbuhan panjang anak. HP tidak berperan penting selama di dalam kandungan, peran yang besar terjadi justru setelah anak lahir.
Dengan semakin meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat, tinggi badan rata-rata masyarakat akan turut meningkat yang dikenal sebagai "kecenderungan sekular".
Contoh yang bisa kita lihat adalah bangsa Jepang yang dhulu dikenal sebagai bangsa "kate" kini generasi mudanya sudah jauh lebih tinggi dari kakek-neneknya, bahkan orang tuanya. Dinegara berkembang, kecenderungan anak kota lebih tinggi dari anak desa pun terlihat. Akibatnya, anak-anak di perkotaan yang merasa dirinya "pendek" akan mencari solusi untuk dapat mencapai tinggi badan yang tinggi yang sepadan dengan teman-temannya.
Belum lagi, beberapa pekerjaan tertentu yang menarik bagi anak muda memerlukan persyaratan tinggi minimal (seperti pilot, tentara, polisi, peragawan/peragawati dll)
Apakah HP jawabannya ?
Tinggi badan anak dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain faktor genetik dan faktor lingkungan. Secara genetik, artinya tinggi badan sangat dipengaruhi oleh tinggi badan kedua orangtuanya, dan dalam skala kecil tinggi badan keluarga terdekat kedua orang tua.
Faktor genetik, mengandung pengertian juga anaknya tidak menderita gangguan genetik tertentu. Faktor lingkungan yang dimaksud antara lain adalah lingkungan selama masih dalam kandungan (lahir prematur atau tidak), gizi, tingkat kesehatan, lingkungan, kasih sayang dalam keluarga, dan tentunya lingkungan hormonal.
Optimalnya semua faktor pendukung dan minimalnya faktor penghambat tinggi badan (penyakit kronis) akan menghasilkan tinggi badan yang sesuai dengan potensi genetiknya.
Dari berbagai penelitian pemakaian HP pada anak, semuanya melaporkan penggunaannya pada anak pendek dengan kondisi penyakit tertentu. Kesimpulan utama yang dapat diambil adalah semakin pendek anak (karena penyakit tertentu tersebut), semakin baik responsnya terhadap pengobatan HP. Artinya, bila pertumbuhan anak sudah normal sesuai dengan potensi genetiknya tentunya responnya minimal sekali atau bahkan mungkin tidak ada.
Beberapa penyakit dengan perawakan pendek yang berhasil dengan pemberian HP adalah anak dengan defisiensi/kekurangan HP, sindrom Turner, berat badan lahir rendah , gagal ginjal kronis, dan sindrom Prader Willi Kondisi ini lain dengan perawakan pendek yang juga diberikan HP ialah "pendek tanpa sesuatu sebab patologis" (idiopathic short stature). Pada kondisi terakhir ternyata pemberian HP memberikan respons yang cukup baik.
Perlu diketahui bahwa sampai saat ini biaya yang diperlukan untuk memperbaiki tinggi badan pada keadaan-keadaan tersebut masih sangat mahal.
Sebagai penutup, mungkin perlu diingat bahwa fungsi hormon dalam tubuh adalah untuk menjaga keseimbangan fisiologis (homeostasis) tubuh, sehingga penggunaan hormonal perlu ditangani oleh seorang yang memang ahli dalam bidangnya.
Kelebihan hormon tentu akan berdampak buruk apabila digunakan sembarangan. Sebagai contoh dapat dilihat apa saja yang terjadi pada atlet yang menggunakan hormon tidak benar, sehingga International Olympic Committee (IOC) perlu mengeluarkan larangan.
Gangguan Kekebalan Tubuh pada Anak
Penulis: Zakiudin Munasir
AKHIR-AKHIR ini banyak diiklankan berbagai produk suplemen, baik berupa vitamin dan mineral, suplemen makanan, atau berbagai bahan tradisional yang diklaim dapat meningkatkan kekebalan tubuh melawan berbagai macam penyakit.
Sebagian ada benarnya, tetapi sebagian besar tidak rasional. Oleh karena itu ada baiknya kita memahami apa yang disebut kekebalan tubuh pada manusia yang akan diuraikan secara ringkas pada tulisan ini.
Sistem kekebalan tubuh dalam bahasa kedokteran disebut imunologi. Sistem kekebalan tubuh yang sempurna dapat mencegah berbagai macam organ, termasuk saluran napas, dari berbagai macam infeksi.
Pembagian sistem kekebalan tubuh manusia
Secara garis besar kekebalan tubuh manusia dibagi dua, yaitu:
* Kekebalan tubuh tidak spesifik
Disebut tidak spesifik karena sistem kekebalan tubuh ini ditujukan untuk menangkal masuknya segala macam zat dari luar yang asing bagi tubuh dan dapat menimbulkan kerusakan tubuh/penyakit, seperti berbagai macam bakteri, virus, parasit atau zat-zat berbahaya bagi tubuh.
Sistem kekebalan atau pertahanan tubuh yang tidak spesifik:
1. Pertahanan fisik: Kulit, selaput lendir
2. Kimiawi: Enzim, keasaman lambung
3. Mekanik: Gerakan usus, rambut getar selaput lendir,
4. Fagositosis: Penelanan kuman/zat asing oleh sel darah putih
5. Zat komplemen yang berfungsi pada berbagai proses pemusnahan kuman/zat asing
Kerusakan pada sistem pertahanan ini akan memudahkan masuknya kuman/zat asing ke dalam tubuh. Misalnya, kulit luka, gangguan keasaman lambung, gangguan gerakan usus atau proses penelanan kuman/zat asing oleh sel darah putih (sel leukosit)
* Kekebalan tubuh spesifik
Bila masuknya kuman/zat asing tidak dapat ditangkal oleh daya tahan tubuh yang tidak spesifik, seperti yang telah dijelaskan di atas, maka diperlukan sistem kekebalan tubuh dengan tingkat lebih tinggi atau spesifik.
Ada 2 jenis kekebalan tubuh yang berperan pada kekebalan yang spesifik ini, yaitu: Kekebalan selular dan kekebalan humoral. Kekebalan ini hanya berperan pada kuman/zat asing yang sudah dikenal artinya bila jenis kuman/zat asing tersebut sudah pernah atau lebih dari satu kali masuk ke dalam tubuh manusia.
Gangguan kekebalan Tubuh
Gangguan sistem kekebalan tubuh di bagi dua, yaitu:
* Gangguan kekebalan primer. Penyebabnya tidak diketahui dan telah ada sejak lahir.
* Gangguan kekebalan sekunder, disebabkan faktor lain, misalnya infeksi (AIDS, campak, dan lain-lain), gizi buruk serta penyakit ganas, misalnya kanker, leukemia, obat-obatan misalnya obat yang mengandung hormone kortikosteroid, obat untuk kanker, dan lain-lain.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kekebalan tubuh:
* Infeksi
* Penyakit
* Obat-obatan
* Gangguan gizi
* Usia
Pengobatan gangguan kekebalan tubuh
Bila sudah terjadi gangguan kekebalan tubuh, maka dokter akan memberikan pengobatan melalui beberapa cara yaitu:
1. Isolasi penderita supaya tidak mudah ketularan penyakit infeksi
2. Suplementasi dengan pemberian gamaglobulin (antibodi dari luar), atau pemberian antibiotika bila ada infeksi sekunder
3. Obat-obatan yang merangsang sistem kekebalan tubuh.
4. Mengobati penyakit penyebab gangguan kekebalan tubuh.
Cara mempertahankan kekebalan tubuh
* Pencegahan infeksi
* Pencegahan penyakit ganas
* Hindari obat-obatan tertentu seperti yang disebutkan di atas kecuali dengan resep/pengawasan dokter
* Gangguan gizi
* Pada anak usia muda (bayi dan balita) serta orang usia tua, hindarkan kontak dengan seseorang yang menderita infeksi supaya tidak mudah tertular.
Kesimpulan
Dari uraian diatas dijelaslah manusia adalah makhluk paling sempurna. Oleh Sang Pencipta manusia dibekali sistem kekebalan sangat sempurna, kompleks, dan rumit. Sampai saat ini belum semua ilmu mengenai kekebalan tubuh manusia diketahui seluruhnya, sehingga tidak semua gangguan kekebalan tubuh dapat diobati.
AKHIR-AKHIR ini banyak diiklankan berbagai produk suplemen, baik berupa vitamin dan mineral, suplemen makanan, atau berbagai bahan tradisional yang diklaim dapat meningkatkan kekebalan tubuh melawan berbagai macam penyakit.
Sebagian ada benarnya, tetapi sebagian besar tidak rasional. Oleh karena itu ada baiknya kita memahami apa yang disebut kekebalan tubuh pada manusia yang akan diuraikan secara ringkas pada tulisan ini.
Sistem kekebalan tubuh dalam bahasa kedokteran disebut imunologi. Sistem kekebalan tubuh yang sempurna dapat mencegah berbagai macam organ, termasuk saluran napas, dari berbagai macam infeksi.
Pembagian sistem kekebalan tubuh manusia
Secara garis besar kekebalan tubuh manusia dibagi dua, yaitu:
* Kekebalan tubuh tidak spesifik
Disebut tidak spesifik karena sistem kekebalan tubuh ini ditujukan untuk menangkal masuknya segala macam zat dari luar yang asing bagi tubuh dan dapat menimbulkan kerusakan tubuh/penyakit, seperti berbagai macam bakteri, virus, parasit atau zat-zat berbahaya bagi tubuh.
Sistem kekebalan atau pertahanan tubuh yang tidak spesifik:
1. Pertahanan fisik: Kulit, selaput lendir
2. Kimiawi: Enzim, keasaman lambung
3. Mekanik: Gerakan usus, rambut getar selaput lendir,
4. Fagositosis: Penelanan kuman/zat asing oleh sel darah putih
5. Zat komplemen yang berfungsi pada berbagai proses pemusnahan kuman/zat asing
Kerusakan pada sistem pertahanan ini akan memudahkan masuknya kuman/zat asing ke dalam tubuh. Misalnya, kulit luka, gangguan keasaman lambung, gangguan gerakan usus atau proses penelanan kuman/zat asing oleh sel darah putih (sel leukosit)
* Kekebalan tubuh spesifik
Bila masuknya kuman/zat asing tidak dapat ditangkal oleh daya tahan tubuh yang tidak spesifik, seperti yang telah dijelaskan di atas, maka diperlukan sistem kekebalan tubuh dengan tingkat lebih tinggi atau spesifik.
Ada 2 jenis kekebalan tubuh yang berperan pada kekebalan yang spesifik ini, yaitu: Kekebalan selular dan kekebalan humoral. Kekebalan ini hanya berperan pada kuman/zat asing yang sudah dikenal artinya bila jenis kuman/zat asing tersebut sudah pernah atau lebih dari satu kali masuk ke dalam tubuh manusia.
Gangguan kekebalan Tubuh
Gangguan sistem kekebalan tubuh di bagi dua, yaitu:
* Gangguan kekebalan primer. Penyebabnya tidak diketahui dan telah ada sejak lahir.
* Gangguan kekebalan sekunder, disebabkan faktor lain, misalnya infeksi (AIDS, campak, dan lain-lain), gizi buruk serta penyakit ganas, misalnya kanker, leukemia, obat-obatan misalnya obat yang mengandung hormone kortikosteroid, obat untuk kanker, dan lain-lain.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kekebalan tubuh:
* Infeksi
* Penyakit
* Obat-obatan
* Gangguan gizi
* Usia
Pengobatan gangguan kekebalan tubuh
Bila sudah terjadi gangguan kekebalan tubuh, maka dokter akan memberikan pengobatan melalui beberapa cara yaitu:
1. Isolasi penderita supaya tidak mudah ketularan penyakit infeksi
2. Suplementasi dengan pemberian gamaglobulin (antibodi dari luar), atau pemberian antibiotika bila ada infeksi sekunder
3. Obat-obatan yang merangsang sistem kekebalan tubuh.
4. Mengobati penyakit penyebab gangguan kekebalan tubuh.
Cara mempertahankan kekebalan tubuh
* Pencegahan infeksi
* Pencegahan penyakit ganas
* Hindari obat-obatan tertentu seperti yang disebutkan di atas kecuali dengan resep/pengawasan dokter
* Gangguan gizi
* Pada anak usia muda (bayi dan balita) serta orang usia tua, hindarkan kontak dengan seseorang yang menderita infeksi supaya tidak mudah tertular.
Kesimpulan
Dari uraian diatas dijelaslah manusia adalah makhluk paling sempurna. Oleh Sang Pencipta manusia dibekali sistem kekebalan sangat sempurna, kompleks, dan rumit. Sampai saat ini belum semua ilmu mengenai kekebalan tubuh manusia diketahui seluruhnya, sehingga tidak semua gangguan kekebalan tubuh dapat diobati.
Kuning Bayi
Penulis: Iesje Martiza Sabaroedin
Pada kehidupan sehari-hari kadang-kadang kita bertemu ibu-ibu yang mengeluh bahwa anak/bayinya menderita sakit kuning . Sebetulnya mengapa anak/bayinya dikatakan sakit kuning?
Alasan sebetulnya anak/bayi tersebut dikatakan sakit kuning karena ibu melihat kulit bayinya menjadi kuning atau lebih jelas lagi matanya terlihat kuning. Kuning pada kulit atau mata itu disebabkan peningkatan kadar bilirubin di dalam darah penderita.
Bilirubin adalah suatu hasil pemecahan sel darah merah (eritrosit). Eritrosit hidup selama 120 hari di dalam tubuh kita, setelah itu eritrosit akan pecah.
Pada keadaan normal bilirubin tersebut akan berikatan dengan protein (albumin) dan dibawa ke hati untuk dikonjugasikan/digabungkan dengan enzim hati untuk menghilangkan efek racunnya.
Bilirubin yang telah dikonjugasi di dalam hati tersebut akan dibawa keusus. Sebagian besar dibuang melalui tinja dan sebagian kecil kembali masuk ke dalam hati dalam keadaan tidak dikonjugasi, dan di hati akan dikonjugasi kembali dan demikian seterusnya.
Pada keadaan yang tidak biasa terjadi peningkatan bilirubin di dalam penderita. Peningkatan ini dapat terjadi pada Bilirubin yang belum dikonjugasi, atau pada bilirubin yang telah dikonjugasi. Peningkatan bilirubin yang belum di konjugasi (efek racunnya belum hilang), pada kadar tinggi dapat menyebabkan pengendapan bilirubin tersebut di sel-sel otak yang mengakibatkan terjadinya kejang-kejang berat (kem icterus). Akhirnya, dapat menyebabkan kematian atau bila sembuh akan meninggalkan gejala sisi berupa keterbelakangan mental, lumpuh, dsb.
Untuk menghindari gejala-gejala berat yang diakibatkan peningkatan bilirubin yang tidak dikonjugasi di dalam darah, maka harus dilakukan tranfusi darah.
Bayi kuning karena peningkatan bilirubin belum dikonjugasi dapat terjadi pada:
1. Bayi normal baru lahir
Pada bayi baru lahir, enzim hati yang berfungsi sempurna sehingga banyak bilirubin tidak dapat dikonjugasi dan bayi terlihat kuning.
Dengan bertambahnya umur bayi maka enzim hati tersebut akan lebih baik fungsinya, bilirubin akan lebih banyak dikonjugasi, dan warna kuning pada tubuh serta mata bayi berkurang, lalu menghilang. Proses ini memerlukan waktu sekitar seminggu untuk bayi lahir dengan berat badan normal dan sekitar dua minggu untuk bayi lahir dengan berat badan rendah. Biasanya peningkatan bilirubin pada keadaan ini jarang mencapai kadar bilirubin yang berbahaya bagi bayi.
Untuk mempercepat konjugasi bilirubin dapat dilakukan pemberian sinar biru (fototerapi), yaitu sinar khusus yang dapat membantu kerja enzim hati sehingga proses konjugasi lebih cepat terjadi.
2. Penyakit yang berhubungan dengan pemecahan darah (eritrosit) yang berlebihan , antara lain:
* Golongan darah ibu dan bayi tidak sesuai. Dalam dunia kedokteran keadaan ini dikenal sebagai ABO incompability. Pada keadaan ini golongan darah ibu O, sedangkan bayinya golongan A atau B. Atau pada ibu yang bergolongan darah Rhesus negatif, sedangkan golongan darah bayi Rhesus positif.
* Kurangnya enzim glukosa 6 phosphat dehydrogenase (G6PD) enzim yang berada di dinding sel darah merah yang berfungsi menjaga keutuhan dinding sel darah menjadi mudah pecah sehingga terjadi peningkatan bilirubin.
* Penyakit bawaan atau turunan.
Ada beberapa penyakit bawaan atau turunan menyebabkan gangguan pada proses konjugasi bilirubin di hati. Penyakit-penyakit tersebut, antara lain adalah sindrom Crigler Najjar dan sindrom Gillbert.
Bayi kuning karena bilirubin terkonjugasi yang meningkat
* Radang hati akut yang biasa disebut hepatitis. Pada keadaan ini terjadi kerusakan sel-sel hati, menyebabkan perlambatan aliran bilirubin/empedu ke usus sehingga bilirubin yang dibuang melalui tinja berkurang.
Akibatnya, terjadi penimbunan bilirubin di hati yang sebagian akan masuk ke dalam aliran darah, akan menyebabkan kadar bilirubin terkonjugasi di dalam darah meningkat.
Hepatitis pada bayi baru lahir antara lain disebabkan infeksi toksoplasma, Rubela, Cytomegalovirus, herpes simplex, atau yang lebih dikenal sebagai infeksi TORCH.
Pada kehidupan sehari-hari kadang-kadang kita bertemu ibu-ibu yang mengeluh bahwa anak/bayinya menderita sakit kuning . Sebetulnya mengapa anak/bayinya dikatakan sakit kuning?
Alasan sebetulnya anak/bayi tersebut dikatakan sakit kuning karena ibu melihat kulit bayinya menjadi kuning atau lebih jelas lagi matanya terlihat kuning. Kuning pada kulit atau mata itu disebabkan peningkatan kadar bilirubin di dalam darah penderita.
Bilirubin adalah suatu hasil pemecahan sel darah merah (eritrosit). Eritrosit hidup selama 120 hari di dalam tubuh kita, setelah itu eritrosit akan pecah.
Pada keadaan normal bilirubin tersebut akan berikatan dengan protein (albumin) dan dibawa ke hati untuk dikonjugasikan/digabungkan dengan enzim hati untuk menghilangkan efek racunnya.
Bilirubin yang telah dikonjugasi di dalam hati tersebut akan dibawa keusus. Sebagian besar dibuang melalui tinja dan sebagian kecil kembali masuk ke dalam hati dalam keadaan tidak dikonjugasi, dan di hati akan dikonjugasi kembali dan demikian seterusnya.
Pada keadaan yang tidak biasa terjadi peningkatan bilirubin di dalam penderita. Peningkatan ini dapat terjadi pada Bilirubin yang belum dikonjugasi, atau pada bilirubin yang telah dikonjugasi. Peningkatan bilirubin yang belum di konjugasi (efek racunnya belum hilang), pada kadar tinggi dapat menyebabkan pengendapan bilirubin tersebut di sel-sel otak yang mengakibatkan terjadinya kejang-kejang berat (kem icterus). Akhirnya, dapat menyebabkan kematian atau bila sembuh akan meninggalkan gejala sisi berupa keterbelakangan mental, lumpuh, dsb.
Untuk menghindari gejala-gejala berat yang diakibatkan peningkatan bilirubin yang tidak dikonjugasi di dalam darah, maka harus dilakukan tranfusi darah.
Bayi kuning karena peningkatan bilirubin belum dikonjugasi dapat terjadi pada:
1. Bayi normal baru lahir
Pada bayi baru lahir, enzim hati yang berfungsi sempurna sehingga banyak bilirubin tidak dapat dikonjugasi dan bayi terlihat kuning.
Dengan bertambahnya umur bayi maka enzim hati tersebut akan lebih baik fungsinya, bilirubin akan lebih banyak dikonjugasi, dan warna kuning pada tubuh serta mata bayi berkurang, lalu menghilang. Proses ini memerlukan waktu sekitar seminggu untuk bayi lahir dengan berat badan normal dan sekitar dua minggu untuk bayi lahir dengan berat badan rendah. Biasanya peningkatan bilirubin pada keadaan ini jarang mencapai kadar bilirubin yang berbahaya bagi bayi.
Untuk mempercepat konjugasi bilirubin dapat dilakukan pemberian sinar biru (fototerapi), yaitu sinar khusus yang dapat membantu kerja enzim hati sehingga proses konjugasi lebih cepat terjadi.
2. Penyakit yang berhubungan dengan pemecahan darah (eritrosit) yang berlebihan , antara lain:
* Golongan darah ibu dan bayi tidak sesuai. Dalam dunia kedokteran keadaan ini dikenal sebagai ABO incompability. Pada keadaan ini golongan darah ibu O, sedangkan bayinya golongan A atau B. Atau pada ibu yang bergolongan darah Rhesus negatif, sedangkan golongan darah bayi Rhesus positif.
* Kurangnya enzim glukosa 6 phosphat dehydrogenase (G6PD) enzim yang berada di dinding sel darah merah yang berfungsi menjaga keutuhan dinding sel darah menjadi mudah pecah sehingga terjadi peningkatan bilirubin.
* Penyakit bawaan atau turunan.
Ada beberapa penyakit bawaan atau turunan menyebabkan gangguan pada proses konjugasi bilirubin di hati. Penyakit-penyakit tersebut, antara lain adalah sindrom Crigler Najjar dan sindrom Gillbert.
Bayi kuning karena bilirubin terkonjugasi yang meningkat
* Radang hati akut yang biasa disebut hepatitis. Pada keadaan ini terjadi kerusakan sel-sel hati, menyebabkan perlambatan aliran bilirubin/empedu ke usus sehingga bilirubin yang dibuang melalui tinja berkurang.
Akibatnya, terjadi penimbunan bilirubin di hati yang sebagian akan masuk ke dalam aliran darah, akan menyebabkan kadar bilirubin terkonjugasi di dalam darah meningkat.
Hepatitis pada bayi baru lahir antara lain disebabkan infeksi toksoplasma, Rubela, Cytomegalovirus, herpes simplex, atau yang lebih dikenal sebagai infeksi TORCH.
Kejang pada Bayi
Kejang pada Bayi
Penulis: Guslihan Dasa Tjipta
KEJANG pada neonatus didefinisikan sebagai suatu gangguan terhadap fungsi neurologis seperti tingkah laku, motorik, atau fungsi otonom.
Periode bayi baru lahir (BBL) dibatasi sampai hari ke-28 kehidupan pada bayi cukup bulan, dan untuk bayi prematur, batasan ini biasanya digunakan sampai usia gestasi 42 minggu.
Kebanyakan kejang pada BBL timbul selama beberapa hari. Sebagian kecil dari bayi tersebut akan mengalami kejang lanjutan dalam kehidupannya kelak. Kejang pada neonatus relatif sering dijumpai dengan manifestasi klinis yang bervariasi. Timbulnya sering merupakan gejala awal dari gangguan neurologi dan dapat terjadi gangguan pada kognitif dan perkembangan jangka panjang.
Insiden kejang pada neonatus di Amerika Serikat belum diketahui dengan jelas, diperkirakan adalah 80-120 pada setiap 100.000 neonatus setiap tahun.
Bagaimana terjadinya kejang?
Neuron dalam susunan saraf pusat (SSP) mengalami depolarisasi sebagai akibat dari masuknya kalium dan repolarisasi timbul akibat keluarnya kalium. Kejang timbul bila terjadi depolarisasi berlebihan akibat arus listrik yang terus-menerus dan berlebihan.
Volpe mengemukakan empat kemungkinan alasan terjadinya depolarisasi yang berlebihan yaitu:
1. Gagalnya pompa natrium kalium karena gangguan produksi energi
2. Selisih relatif antara neurotransmitter eksitasi dan inhibisi
3. Defisiensi relative neurotransmitter inhibisi dibanding eksitasi
4. Perubahan membran neuron menyebabkan hambatan gerakan natrium.
Tetapi, dasar mekanisme kejang pada neonatus masih belum dapat diketahui dengan jelas.
Ada banyak penyebab kejang pada neonatus, yaitu:
1. Bayi tidak menangis pada waktu lahir adalah penyebab yang paling sering. Timbul dalam 24 jam kehidupan pada kebanyakan kasus.
2. Perdarahan otak, dapat timbul sebagai akibat dari kekurangan oksigen atau trauma pada kepala. Perdarahan subdural
yang biasanya diakibatkan oleh trauma dapat menimbulkan kejang
3. Gangguan metabolik.
1. Kekurangan kadar gula darah (Hipoglikomia), sering timbul dengan gangguan pertumbuhan dalam kandungan dan pada bayi dengan ibu penderita diabetes melitus (DM). Jangka waktu antara hipoglikemia dan waktu sebelum pemberian awal pengobatan merupakan waktu timbulnya kejang. Kejang lebih jarang timbul pada ibu penderita diabetes, kemungkinan karena waktu hipoglikemia yang pendek.
2. Kekurangan kalsium (hipokalsemia), sering ditemukan pada bayi berat badan lahir rendah, bayi dengan ibu penderita DM, bayi asfiksia, bayi dengan ibu penderita hiperparatiroidisme.
3. Kekurangan natrium (Hiponatremia)
4. Kelebihan natrium (Hipernatremia), biasanya timbul bersamaan dengan dehidrasi atau pemakaian bikarbonat berlebihan.
5. Kelainan metabolik lainseperti:
* Ketergantungan piridoksin mengakibatkan kejangyang resistan terhadap antikonvulsan.
Bayi dengan kelainan ini mengalami kejang intrauterin dan lahir dengan meconium staining
* Gangguan asam amino
Kejang pada bayi dengan gangguan asam amino sering disertai dengan manifestasi neurologi. Hiperamonemia dan asidosis sering timbul pada gangguan asam amino.
4. Infeksi sekunder akibat bakteri atau nonbakteri dapat timbul pada bayi dalam kandungan, selama persalinan, atau pada periode perinatal
1. Infeksi bakteri
Meningitis akibat infeksi group B Streptococcus, Escherechia coli, atau Listeria monocytogenes sering menyertai kejang selama minggu pertama kehidupan.
2. Infeksi nonbacterial
Penyebab nonbacterial seperti toxoplasmosis dan infeksi oleh herpes simplex, cytomegalovirus, rubella dan coxackie B virus dapat menyebabkan infeksi intrakranial dan kejang.
Penulis: Guslihan Dasa Tjipta
KEJANG pada neonatus didefinisikan sebagai suatu gangguan terhadap fungsi neurologis seperti tingkah laku, motorik, atau fungsi otonom.
Periode bayi baru lahir (BBL) dibatasi sampai hari ke-28 kehidupan pada bayi cukup bulan, dan untuk bayi prematur, batasan ini biasanya digunakan sampai usia gestasi 42 minggu.
Kebanyakan kejang pada BBL timbul selama beberapa hari. Sebagian kecil dari bayi tersebut akan mengalami kejang lanjutan dalam kehidupannya kelak. Kejang pada neonatus relatif sering dijumpai dengan manifestasi klinis yang bervariasi. Timbulnya sering merupakan gejala awal dari gangguan neurologi dan dapat terjadi gangguan pada kognitif dan perkembangan jangka panjang.
Insiden kejang pada neonatus di Amerika Serikat belum diketahui dengan jelas, diperkirakan adalah 80-120 pada setiap 100.000 neonatus setiap tahun.
Bagaimana terjadinya kejang?
Neuron dalam susunan saraf pusat (SSP) mengalami depolarisasi sebagai akibat dari masuknya kalium dan repolarisasi timbul akibat keluarnya kalium. Kejang timbul bila terjadi depolarisasi berlebihan akibat arus listrik yang terus-menerus dan berlebihan.
Volpe mengemukakan empat kemungkinan alasan terjadinya depolarisasi yang berlebihan yaitu:
1. Gagalnya pompa natrium kalium karena gangguan produksi energi
2. Selisih relatif antara neurotransmitter eksitasi dan inhibisi
3. Defisiensi relative neurotransmitter inhibisi dibanding eksitasi
4. Perubahan membran neuron menyebabkan hambatan gerakan natrium.
Tetapi, dasar mekanisme kejang pada neonatus masih belum dapat diketahui dengan jelas.
Ada banyak penyebab kejang pada neonatus, yaitu:
1. Bayi tidak menangis pada waktu lahir adalah penyebab yang paling sering. Timbul dalam 24 jam kehidupan pada kebanyakan kasus.
2. Perdarahan otak, dapat timbul sebagai akibat dari kekurangan oksigen atau trauma pada kepala. Perdarahan subdural
yang biasanya diakibatkan oleh trauma dapat menimbulkan kejang
3. Gangguan metabolik.
1. Kekurangan kadar gula darah (Hipoglikomia), sering timbul dengan gangguan pertumbuhan dalam kandungan dan pada bayi dengan ibu penderita diabetes melitus (DM). Jangka waktu antara hipoglikemia dan waktu sebelum pemberian awal pengobatan merupakan waktu timbulnya kejang. Kejang lebih jarang timbul pada ibu penderita diabetes, kemungkinan karena waktu hipoglikemia yang pendek.
2. Kekurangan kalsium (hipokalsemia), sering ditemukan pada bayi berat badan lahir rendah, bayi dengan ibu penderita DM, bayi asfiksia, bayi dengan ibu penderita hiperparatiroidisme.
3. Kekurangan natrium (Hiponatremia)
4. Kelebihan natrium (Hipernatremia), biasanya timbul bersamaan dengan dehidrasi atau pemakaian bikarbonat berlebihan.
5. Kelainan metabolik lainseperti:
* Ketergantungan piridoksin mengakibatkan kejangyang resistan terhadap antikonvulsan.
Bayi dengan kelainan ini mengalami kejang intrauterin dan lahir dengan meconium staining
* Gangguan asam amino
Kejang pada bayi dengan gangguan asam amino sering disertai dengan manifestasi neurologi. Hiperamonemia dan asidosis sering timbul pada gangguan asam amino.
4. Infeksi sekunder akibat bakteri atau nonbakteri dapat timbul pada bayi dalam kandungan, selama persalinan, atau pada periode perinatal
1. Infeksi bakteri
Meningitis akibat infeksi group B Streptococcus, Escherechia coli, atau Listeria monocytogenes sering menyertai kejang selama minggu pertama kehidupan.
2. Infeksi nonbacterial
Penyebab nonbacterial seperti toxoplasmosis dan infeksi oleh herpes simplex, cytomegalovirus, rubella dan coxackie B virus dapat menyebabkan infeksi intrakranial dan kejang.
Bayi Baru lahir dengan Ibu Bermasalah
Penulis: Fatimah Indarso
SEBAGIAN besar bayi baru lahir (BBL) yang terlahir dari ibu bermasalah tidak menunjukkan gejala sakit saat dilahirkan atau beberapa waktu setelah lahir. Namun, bukan berarti bayi ini aman dari gangguan akibat penyakit yang diderita. Ibu bermasalah berarti menderita sakit sebelum maupun selama hamil, atau saat menghadapi persalinan.
Sebenarnya banyak jenis penyakit yang bisa diderita ibu selama periode itu. Tapi, akan dibahas manajemen BBL dari ibu penderita penyakit yang relatif sering, seperti kecurigaan infeksi dalam kandungan, hepatitis B, tuberkulosis, atau diabetes melitus, dan malaria.
Tanda-tanda ibu yang diduga mengalami infeksi dalam kandungan dan bisa berakibat infeksi atau bakteriemia pada bayinya ialah bila ibu terkena panas lebih atau sama dengan 38 derajat Celcius selama persalinan sampai tiga hari usai persalinan.
Cairan ketuban yang mestinya berwarna putih jernih, menjadi hijau keruh, apalagi berbau busuk. Cairan ketuban pecah 18-24 jam sebelum bayi lahir, atau saat umur kehamilan menginjak 37 minggu. Pada keadaan tadi, BBL rawan terhadap infeksi yang mengancam jiwanya karena dapat terserang infeksi berat.
Perubahan ke arah kondisi yang buruk sangat cepat. Bila ibu mengalami hal ini, sebaiknya melahirkan di pusat pelayanan kesehatan karena BBL perlu memperoleh pemantauan ketat dan obat antibiotik. Apabila lahir di rumah, perlu dikomunikasikan dengan bidan agar mendapat pengobatan.
Pengawasan yang perlu dilakukan keluarga ialah, apakah pernapasan bayi menjadi cepat, mengantuk saja walau dirangsang dengan sentuhan, lemas, suhu tubuh dingin atau kurang dari 36,5 derajat Celcius, panas, muntah setiap kali minum, kembung, atau merintih. Bila ada tanda-tanda itu, sebaiknya cepat dibawa ke pusat pelayanan kesehatan.
Pada ibu hamil penderita hepatitis B dengan hasil pemeriksaan darah HbsAg positif untuk jangka waktu enam bulan, atau tetap positif selama kehamilan dan saat persalinan, maka risiko mendapat infeksi hepatitis kronis pada bayinya sebesar 80-90%.
Komunikasi
Perlu komunikasi aktif antara ibu dan dokter kandungan, dokter anak, atau bidan agar manajemen terhadap BBL cepat dilakukan, yaitu segera setelah bayi lahir, dalam waktu 12 jam, imunisasi aktif hepatitis B segera diberikan.
Bila memungkinkan, dapat disertai imunisasi pasif hepatitis B dalam bentuk Imunoglobulin hepatitis B, dilanjutkan jadwal imunisasi rutin kedua dan ketiga. Pada umur tujuh bulan atau sebulan setelah suntikan ketiga, dilakukan pemeriksaan anti-HBs dan HBsAg. Lalu, pada umur 1, 3, dan 5 tahun. Hasilnya dikomunikasikan dengan dokter anak setempat. Ibu tetap bioleh memberikan ASI, kecuali saat melahirkan, ibu sakit hepatitis akut yang berarti virus banyak beredar di dalam darah hingga masuk ke bayi melalui puting susu jika terluka.
Pada ibu penderita tuberkulosis (Tb) aktif, penularan dapat terjadi sebelum bayi lahir melalui plasenta atau lewat pernapasan setelah bayi lahir. Ibu perlu berterus terang kepada dokter atau bidan karena berhubungan dengan pemberian vaksin BCG.
Bila ibu memperoleh pengobatan Tb belum genap dua bulan, atau didiagnosis Tb setelah melahirkan, bayi jangan divaksin BCG. Mintalah kepada bidan atau dokter anak tentang pencegahan penularan. Biasanya, bayi diberi obat INH. Pada umur delapan minggu, bayi diminta agar diperiksa, apakah ibunya tertular Tb dengan pemeriksaan darah, foto dada, dan tes Mantoux. bila tertular, segeralah diobati. Bila sehat, pencegahan dilanjutkan sampai enam bulan. Pemberian BCG pada dua minggu setelah pemberian INH, ibu boleh memberikan ASI sesuai kebutuhan bayi. Gizi ibu perlu diperhatikan agar kesehatan ibu dan anak terjamin.
Pada ibu penderita diabetes melitus, jauh sebelum hamil , sebaiknya mengusahakan agar kadar gula darah terkontrol, dengan obat atau diet. Komunikasikan dengan dokter penyakit dalam. Apabila kadar gula tidak terkontrol, bayi yang dikandung mempunyai berat di atas ideal BBL pada umumnya. Tentu hal ini dapat menyulitkan proses persalinan yang dapat mengakibatkan trauma lahir, bahkan BBL tak bisa menangis atau bernapas secara spontan dan teratur saat lahir. Kalau kondisi ini berlangsung lama, kelak menimbulkan cacat mental atau fisik.
Pada ibu hamil penderita malaria, bayi yang dikandung dapat mengalami keguguran, prematur, beratnya dibawah ideal, minum bermassalah, demam, anemia, kuning, lahir mati, atau pembesaran hati dan limpa, tergantung kehamilan pada minggu keberapa ibu menderita malaria.
SEBAGIAN besar bayi baru lahir (BBL) yang terlahir dari ibu bermasalah tidak menunjukkan gejala sakit saat dilahirkan atau beberapa waktu setelah lahir. Namun, bukan berarti bayi ini aman dari gangguan akibat penyakit yang diderita. Ibu bermasalah berarti menderita sakit sebelum maupun selama hamil, atau saat menghadapi persalinan.
Sebenarnya banyak jenis penyakit yang bisa diderita ibu selama periode itu. Tapi, akan dibahas manajemen BBL dari ibu penderita penyakit yang relatif sering, seperti kecurigaan infeksi dalam kandungan, hepatitis B, tuberkulosis, atau diabetes melitus, dan malaria.
Tanda-tanda ibu yang diduga mengalami infeksi dalam kandungan dan bisa berakibat infeksi atau bakteriemia pada bayinya ialah bila ibu terkena panas lebih atau sama dengan 38 derajat Celcius selama persalinan sampai tiga hari usai persalinan.
Cairan ketuban yang mestinya berwarna putih jernih, menjadi hijau keruh, apalagi berbau busuk. Cairan ketuban pecah 18-24 jam sebelum bayi lahir, atau saat umur kehamilan menginjak 37 minggu. Pada keadaan tadi, BBL rawan terhadap infeksi yang mengancam jiwanya karena dapat terserang infeksi berat.
Perubahan ke arah kondisi yang buruk sangat cepat. Bila ibu mengalami hal ini, sebaiknya melahirkan di pusat pelayanan kesehatan karena BBL perlu memperoleh pemantauan ketat dan obat antibiotik. Apabila lahir di rumah, perlu dikomunikasikan dengan bidan agar mendapat pengobatan.
Pengawasan yang perlu dilakukan keluarga ialah, apakah pernapasan bayi menjadi cepat, mengantuk saja walau dirangsang dengan sentuhan, lemas, suhu tubuh dingin atau kurang dari 36,5 derajat Celcius, panas, muntah setiap kali minum, kembung, atau merintih. Bila ada tanda-tanda itu, sebaiknya cepat dibawa ke pusat pelayanan kesehatan.
Pada ibu hamil penderita hepatitis B dengan hasil pemeriksaan darah HbsAg positif untuk jangka waktu enam bulan, atau tetap positif selama kehamilan dan saat persalinan, maka risiko mendapat infeksi hepatitis kronis pada bayinya sebesar 80-90%.
Komunikasi
Perlu komunikasi aktif antara ibu dan dokter kandungan, dokter anak, atau bidan agar manajemen terhadap BBL cepat dilakukan, yaitu segera setelah bayi lahir, dalam waktu 12 jam, imunisasi aktif hepatitis B segera diberikan.
Bila memungkinkan, dapat disertai imunisasi pasif hepatitis B dalam bentuk Imunoglobulin hepatitis B, dilanjutkan jadwal imunisasi rutin kedua dan ketiga. Pada umur tujuh bulan atau sebulan setelah suntikan ketiga, dilakukan pemeriksaan anti-HBs dan HBsAg. Lalu, pada umur 1, 3, dan 5 tahun. Hasilnya dikomunikasikan dengan dokter anak setempat. Ibu tetap bioleh memberikan ASI, kecuali saat melahirkan, ibu sakit hepatitis akut yang berarti virus banyak beredar di dalam darah hingga masuk ke bayi melalui puting susu jika terluka.
Pada ibu penderita tuberkulosis (Tb) aktif, penularan dapat terjadi sebelum bayi lahir melalui plasenta atau lewat pernapasan setelah bayi lahir. Ibu perlu berterus terang kepada dokter atau bidan karena berhubungan dengan pemberian vaksin BCG.
Bila ibu memperoleh pengobatan Tb belum genap dua bulan, atau didiagnosis Tb setelah melahirkan, bayi jangan divaksin BCG. Mintalah kepada bidan atau dokter anak tentang pencegahan penularan. Biasanya, bayi diberi obat INH. Pada umur delapan minggu, bayi diminta agar diperiksa, apakah ibunya tertular Tb dengan pemeriksaan darah, foto dada, dan tes Mantoux. bila tertular, segeralah diobati. Bila sehat, pencegahan dilanjutkan sampai enam bulan. Pemberian BCG pada dua minggu setelah pemberian INH, ibu boleh memberikan ASI sesuai kebutuhan bayi. Gizi ibu perlu diperhatikan agar kesehatan ibu dan anak terjamin.
Pada ibu penderita diabetes melitus, jauh sebelum hamil , sebaiknya mengusahakan agar kadar gula darah terkontrol, dengan obat atau diet. Komunikasikan dengan dokter penyakit dalam. Apabila kadar gula tidak terkontrol, bayi yang dikandung mempunyai berat di atas ideal BBL pada umumnya. Tentu hal ini dapat menyulitkan proses persalinan yang dapat mengakibatkan trauma lahir, bahkan BBL tak bisa menangis atau bernapas secara spontan dan teratur saat lahir. Kalau kondisi ini berlangsung lama, kelak menimbulkan cacat mental atau fisik.
Pada ibu hamil penderita malaria, bayi yang dikandung dapat mengalami keguguran, prematur, beratnya dibawah ideal, minum bermassalah, demam, anemia, kuning, lahir mati, atau pembesaran hati dan limpa, tergantung kehamilan pada minggu keberapa ibu menderita malaria.
Kesulitan Belajar pada Anak
Kesulitan Belajar pada Anak
Penulis: Rini Sekartini
KESULITAN belajar sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Beberapa ilmuwan terkemuka pernah mengalaminya, antara lain Thomas Alva Edison, Albert Einstein, dan Hans Christian Anderson. Kejadian ini merupakan bentuk kesulitan belajar yang pertama kali ditemukan.
Kasus ini meliputi banyak aspek, yaitu membaca, menulis, mengeja, dan matematika. Anak yang mengalaminya pasti memiliki kelebihan dibidang lainnya. Karena itu, orang tua perlu memahami anak. Tak hanya melihat kelemahannya, tetapi lebih menonjolkan kemampuan anak di bidang lain. Angka kejadiannya belum diketahui pasti, namun berkisar 5%-10%. Laki-laki yang mengalaminya tiga kali lebih banyak dibanding perempuan.
Umumnya, guru merupakan orang pertama yang dapat mendeteksi kesulitan belajar pada anak karena dapat segera melihat perbedaan kemampuan dan perilaku anak tersebut daripada teman-teman seusianya. Tetapi, terkadang, ada juga orang tua yang bisa mengetahuinya. Kesulitan belajar biasanya terdiagnosis ketika anak sekolah. Hal ini menjadi masalah saat anak berusia delapan tahun atau lebih karena pada usia itu, tuntutan kemampuan akademik sudah lebih tinggi.
Penyebabnya belum jelas, sangat jarang ditemukan kelainan neurologis pada anak dengan kesulitan belajar. Dua faktor yang mempengaruhinya, yaitu genetik sehingga ditemukan angka kejadian laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, yang diduga berkaitan dengan efek pada kromosom X. Lalu, faktor lingkungan, seperti dalam kehamilan, persalinan, masa neonatus, serta pencemaran logam berat. Tiap anak bisa menderita satu atau lebih kesulitan belajar yang spesifik. Kejadian yang paling sering dijumpai adalah:
Kesulitan membaca
Gejalanya antara lain sulit membedakan bentuk huruf tertentu, seperti b dan d. Atau tak bisa membaca dengan suara keras, irama yang monoton ketika membaca, cenderung mengikuti tulisan yang hendak dibaca dengan jari. Anak normal biasanya telah mampu membaca pada usia 6-7 tahun.
Pedoman untuk meningkatkan kemampuan membaca anak adalah memilih waktu saat orang tua dan anak dalam suasana nyaman, tidak sedang lelah atau lapar, tanpa gangguan anggota keluarga yang lain, memakai buku pedoman yang sama dengan yang digunakan di sekolah, memilih ruang belajar yang nyaman dengan penerangan yang baik, pada tahap awal anak boleh memakai jari atau pensil untuk mengikuti kata-kata yang dibaca, orang tua dan anak bergantian membaca untuk mengurangi ketegangan, meningkatkan rasa percaya diri anak, serta lebih banyak cerita yang bisa dibaca.
Ketika anak mulai lancar membaca, biarkan dia menyelesaikan bacaan itu sendiri. Waktu yang digunakan jangan terlalu lama, mulai dari 5 menit, dan ditingkatkan bertahap sampai 15 menit. Bila ada yang salah dibaca, jangan segera dikritik, tunggu sampai akhir kalimat. Hindari komentar negati. Jangan cemas bila tahap awal anak membaca dengan irama yang monoton. Pada akhir bacaan, diskusikan isi bacaan tersebut.
Kesulitan mengeja
Keadaan ini ditandai dengan kesulitan bermakna dalam menuliskan kata-kata dengan ejaan yang benar. Hal itu sering dialami bersamaan dengan kesulitan membaca. Pengajaran dimulai dengan kata-kata yang telah dikenal anak. Tiap hari dilatih dengan jumlah kata yang tidak terlalu banyak. Anak diminta membaca serta mengingat kata-kata yang ditulis di kartu dan diminta menuliskannya lagi di kertas kosong. Bila kesulitan, dibantu dengan mendikte tiap hurup. Bila anak berhasil menulis dengan benar berikan pujian.
Kesulitan menulis
Anak tersebut tak mampu berkomunikasi secara tertulis. Kerap ditemukan kesalahan dalam ejaan, tanda baca, dan pemakaian huruf kapital, lalu bentuk huruf yang ditulis sangatu buruk.. Kejadian ini relatif jarang terdeteksi. Anak bersangkutan terkadang bisa menulis dengan lebih baik bila diberikan waktu yang lama.
Kelainan ini bisa akibat gangguan konsentrasi dan pemusatan perhatian, memori visual, dan koordinasi motorik halus. Agar dapat menulis dengan baik, diperhatikan dulu cara duduk yang benar ketika menulis, yaitu duduk tegak, kaki menyentuh lantai, serta kedua lengan di atas meja.
Kesulitan berhitung
Kesulitan ini paling banyak mendapat perhatian. Dalam hal aritmetika, bisa merupakan kelainan tersendiri, atau bagian dari kesulitan belajar yang lain. Cara mengatasinya, metode pengajaran yang digunakan mesti sama dengan yang diajarkan di sekolah agar anak tidak semakin binggung
Penulis: Rini Sekartini
KESULITAN belajar sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Beberapa ilmuwan terkemuka pernah mengalaminya, antara lain Thomas Alva Edison, Albert Einstein, dan Hans Christian Anderson. Kejadian ini merupakan bentuk kesulitan belajar yang pertama kali ditemukan.
Kasus ini meliputi banyak aspek, yaitu membaca, menulis, mengeja, dan matematika. Anak yang mengalaminya pasti memiliki kelebihan dibidang lainnya. Karena itu, orang tua perlu memahami anak. Tak hanya melihat kelemahannya, tetapi lebih menonjolkan kemampuan anak di bidang lain. Angka kejadiannya belum diketahui pasti, namun berkisar 5%-10%. Laki-laki yang mengalaminya tiga kali lebih banyak dibanding perempuan.
Umumnya, guru merupakan orang pertama yang dapat mendeteksi kesulitan belajar pada anak karena dapat segera melihat perbedaan kemampuan dan perilaku anak tersebut daripada teman-teman seusianya. Tetapi, terkadang, ada juga orang tua yang bisa mengetahuinya. Kesulitan belajar biasanya terdiagnosis ketika anak sekolah. Hal ini menjadi masalah saat anak berusia delapan tahun atau lebih karena pada usia itu, tuntutan kemampuan akademik sudah lebih tinggi.
Penyebabnya belum jelas, sangat jarang ditemukan kelainan neurologis pada anak dengan kesulitan belajar. Dua faktor yang mempengaruhinya, yaitu genetik sehingga ditemukan angka kejadian laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, yang diduga berkaitan dengan efek pada kromosom X. Lalu, faktor lingkungan, seperti dalam kehamilan, persalinan, masa neonatus, serta pencemaran logam berat. Tiap anak bisa menderita satu atau lebih kesulitan belajar yang spesifik. Kejadian yang paling sering dijumpai adalah:
Kesulitan membaca
Gejalanya antara lain sulit membedakan bentuk huruf tertentu, seperti b dan d. Atau tak bisa membaca dengan suara keras, irama yang monoton ketika membaca, cenderung mengikuti tulisan yang hendak dibaca dengan jari. Anak normal biasanya telah mampu membaca pada usia 6-7 tahun.
Pedoman untuk meningkatkan kemampuan membaca anak adalah memilih waktu saat orang tua dan anak dalam suasana nyaman, tidak sedang lelah atau lapar, tanpa gangguan anggota keluarga yang lain, memakai buku pedoman yang sama dengan yang digunakan di sekolah, memilih ruang belajar yang nyaman dengan penerangan yang baik, pada tahap awal anak boleh memakai jari atau pensil untuk mengikuti kata-kata yang dibaca, orang tua dan anak bergantian membaca untuk mengurangi ketegangan, meningkatkan rasa percaya diri anak, serta lebih banyak cerita yang bisa dibaca.
Ketika anak mulai lancar membaca, biarkan dia menyelesaikan bacaan itu sendiri. Waktu yang digunakan jangan terlalu lama, mulai dari 5 menit, dan ditingkatkan bertahap sampai 15 menit. Bila ada yang salah dibaca, jangan segera dikritik, tunggu sampai akhir kalimat. Hindari komentar negati. Jangan cemas bila tahap awal anak membaca dengan irama yang monoton. Pada akhir bacaan, diskusikan isi bacaan tersebut.
Kesulitan mengeja
Keadaan ini ditandai dengan kesulitan bermakna dalam menuliskan kata-kata dengan ejaan yang benar. Hal itu sering dialami bersamaan dengan kesulitan membaca. Pengajaran dimulai dengan kata-kata yang telah dikenal anak. Tiap hari dilatih dengan jumlah kata yang tidak terlalu banyak. Anak diminta membaca serta mengingat kata-kata yang ditulis di kartu dan diminta menuliskannya lagi di kertas kosong. Bila kesulitan, dibantu dengan mendikte tiap hurup. Bila anak berhasil menulis dengan benar berikan pujian.
Kesulitan menulis
Anak tersebut tak mampu berkomunikasi secara tertulis. Kerap ditemukan kesalahan dalam ejaan, tanda baca, dan pemakaian huruf kapital, lalu bentuk huruf yang ditulis sangatu buruk.. Kejadian ini relatif jarang terdeteksi. Anak bersangkutan terkadang bisa menulis dengan lebih baik bila diberikan waktu yang lama.
Kelainan ini bisa akibat gangguan konsentrasi dan pemusatan perhatian, memori visual, dan koordinasi motorik halus. Agar dapat menulis dengan baik, diperhatikan dulu cara duduk yang benar ketika menulis, yaitu duduk tegak, kaki menyentuh lantai, serta kedua lengan di atas meja.
Kesulitan berhitung
Kesulitan ini paling banyak mendapat perhatian. Dalam hal aritmetika, bisa merupakan kelainan tersendiri, atau bagian dari kesulitan belajar yang lain. Cara mengatasinya, metode pengajaran yang digunakan mesti sama dengan yang diajarkan di sekolah agar anak tidak semakin binggung
Langganan:
Postingan (Atom)

